Reflection on Art, Music, Literature, and Life

Refleksi atas J.S.Bach Cantata 106

Dalam dekade terakhirnya, sering terdengar banyak bencana yang menimpa di semua benua yang ada di bumi ini. Saya teringat di Indonesia beberapa tahun yang lalu, tepatnya tgl 27 Desember 2 hari setelah hari Natal, terjadi tsunami di Aceh yang sangat mengejutkan dan hampir tidak dapat di percaya, yang meliputi sampai di Srilanka dan Afrika. Sampai antar benua dan antar negara. Beberapa kemudian diikuti dengan gempa bumi yang dashyat pula menimpa Pulau Nias, dan setelah itu beberapa hari setalah Paskah terjadi gempa bumi pula di Jogjakarta dan Bantul yang cukup parah. Bencana bukan hanya di negara Indonesia saja, Amerika juga di porak poranda kan oleh Topan Katrina. gempa bumi di Szen Chen yang hebat.  Lalu yang barusan terjadi di Australia, terjadi kebakaran hutan yang hebat, dan masih banyak lagi. Semuanya begitu mengerikan, begitu banyak yang manusia yang mati sia2,  juga apa yang telah dibangun oleh manusia, semuanya hancur dalam sekejap.

Bencana juga bukan hanya dari alam saja, banyak begitu banyak pula bencana yang disebabkan manusia, yang jelas dan besar seperti peperangan, terorisme, bom2 bunuh diri yang hampir setiap hari terjadi, sampai bencana yang ditimbulkan perorangan terhadap manusia yang lain, dan lingkungan hidup.

Selain itu, bencana bukannya hanya bentuk pembunuhan, tapi juga dapat berbentuk hal lain, yang sebenarnya disadari atau tidak berujung pada kematian manusia juga, seperti penggunaan narkoba, gaya hidup yang bebas, gay dan lesbian,  ide yang menghancurkan budaya dna moral manusia, dan masih banyak lagi. Maka akibatnya kita melihat, kebudayaan dan kehidupan manusia semakin hancur, perilaku-perilaku yang kita tidak bisa terima karena melawan hati nurani.

Setiap hari kita melihat manusia menangis, meratap, mungkin kita sendiri mengalami kesusahan dan menjadi korban. Apakah manusia ada harapan lagi? Hidup kita tidak tahu bagaimana nantinya, kemana arahnya. Masa depan yang suram, dan menakutkan.

Sebenarnya penderitaan manusia bukan hanya dialami oleh manusia abad 20 dan 21 ini, tetapi sejak dari dahulu kala, sejak manusia berdosa, di situlah mulai adanya penderitaan manusia.

J.S.Bach telah mengungkapkan hal ini dalam karyanya Cantata 106 yang juga disebut Actus Tragicus. Bach menggubah karya ini untuk pemakaman yang librettinya diambil dari Alkitab. Bukankah tragedi manusia terbesar adalah kematian?

Diawali dengan sonatina lambat yang melukiskan atmosfer kesedihan, yang dilanjutkan dengan pernyataan ” Waktu Tuhan adalah waktu yang terbaik. Hanya dalam Dialah kita hidup, bergerak, dan berada, selama Dia berkehendak. Kita mati pada waktu yang tepat saat Dia berkehendak.”  Memang segala sesuatu terjadi di dunia ini atas persetujuan Tuhan. Lalu bagaimana manusia seharusnya hidup?

Solo Tenor menjawab dengan doa yang diambil dari Mazmur 90: 12 yang merupakan doa Musa. ” Oh Tuhan, ajari kami menghitung hari-hari kami sehingga sedemikian, sehingga kami mempunyai hati yang bijaksana.”

Dilanjutkan dengan sebuah aria seruan dari bass bariton ” Rapikanlah rumahmu (dengan maksud rumah di sorga) karena kamu akan mati dan tidak akan hidup abadi.”

Sejak jatuh dalam dosa, semua manusia sudah mati, didahului dengan kematian rohani, lalu diikuti kematian jasmani. “Sudah tertulis di dalam Perjanjian Lama, hai manusia, kamu harus MATI!” merupakan penghakiman dari Tuhan yang sudah jelas dan pasti. Namun masih ada harapan yang dapat bagi manusia untuk lepas dari penghukuman kekal, yaitu hanya pada Tuhan Yesus.  ” Ya datanglah Tuhan Yesus, datanglah”

Setelah manusia menerima Tuhan Yesus, maka dapat kita dapat berdoa dalam pengharapan “ ke dalam tanganMu ku serahkan nyawaku; Engkau telah membebaskan aku, Tuhan, Engkau Allah yang setia.”

Dengan mengutip janji Tuhan Yesus untuk seorang penjahat di kayu salib maka dapat merupakan janji untuk manusia yang percaya : Hari ini kamu akan bersamaKu di Firdaus” dinyanyikan oleh solo Bas bariton. Dijawab dengan alto koor  dengan keyakinan dan sukacita ” Dengan damai dan sukacita atku berangkat ke sana dalam kehendak Tuhan. Hati dan pikiranku terhibur, penuh damai dan ketenangan, sebagaimana Tuhan telah menjanjikannya padaku. Kematian hanyalah tidur sementara bagiku.

Akhir karya ini ditutup dengan suatu pujian doxology yang dinyanyikan oleh kor : ” Kejayaan, pujian, kehormatan, dan kemuliaan, hanya untuk Allah Bapa, Anak dan Roh Kudus. Kekuatan yang berasal dari Allah membuat kita penuh kemenangan melalui Yesus Kristus. Amen.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.